stop

Suara Semesta Jangkau Komunikasi Luas Tanpa Batas

Suara Semesta (Kuningan) -
Menjaga kelestarian alam serta mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan tanggung jawab bersama yang harus diemban dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan, mengingat dampaknya yang sangat luas bagi kehidupan manusia maupun keseimbangan ekosistem.

Berlandaskan kesadaran inilah, Polres Kuningan secara aktif menggalakkan kampanye bertajuk “Jaga Rawat Jawa Barat Stop Karhutla: Lindungi Alam, Jangan Bakar Hutan Dan Lahan”, sebagai upaya berkelanjutan untuk melindungi kekayaan alam Kabupaten Kuningan yang berada di kaki Gunung Ciremai, sekaligus menjaga kualitas lingkungan hidup bagi generasi kini dan mendatang.

Dalam rangkaian kegiatan sosialisasi dan edukasi yang dilaksanakan, Aiptu Ende KS, personel Satuan Lalu Lintas Polres Kuningan yang dikenal aktif dalam menyampaikan pesan-pesan pelayanan publik melalui program “Polantas Menyapa”, turut memberikan paparan yang mendalam mengenai pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Beliau menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar bencana alam, melainkan kerugian besar yang merampas keanekaragaman hayati, merusak sumber daya alam, mengganggu kesehatan masyarakat akibat asap, serta memperburuk perubahan iklim secara global.

“Membakar hutan dan lahan demi alasan apa pun adalah tindakan yang merugikan banyak pihak dan tidak sejalan dengan prinsip menjaga amanah alam semesta. Hutan dan lahan adalah sumber kehidupan — penyedia oksigen, penyerap air hujan, penjaga kesuburan tanah, serta rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna. Ketika kita membakarnya, kita sedang merusak fondasi kehidupan itu sendiri,” ungkap Aiptu Ende KS dengan penuh kebijaksanaan.

Lebih lanjut, beliau mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya warga Kabupaten Kuningan, untuk senantiasa bijak dalam memperlakukan alam. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih dilakukan di beberapa tempat harus segera dihentikan dan diganti dengan metode yang lebih ramah lingkungan, aman, serta bertanggung jawab.

Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama pada musim kemarau panjang, serta segera melaporkan setiap tanda awal kebakaran maupun aktivitas pembakaran liar kepada pihak berwajib atau instansi terkait.

Kampanye “Jaga Rawat Jawa Barat Stop Karhutla” ini menjadi bukti nyata bahwa kepolisian tidak hanya berperan dalam penegakan hukum semata, tetapi juga hadir sebagai mitra masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Polres Kuningan berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan sosialisasi, memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, instansi kehutanan, tokoh masyarakat, serta seluruh lapisan warga, demi menciptakan lingkungan yang aman, asri, dan lestari.

Semoga semangat menjaga dan merawat alam Jawa Barat yang disuarakan melalui kampanye ini senantiasa tumbuh di hati setiap warga, menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan demi mewujudkan alam yang lestari, udara yang bersih, dan masa depan yang sejahtera bagi seluruh makhluk hidup.

(Ramadhan)
Suara Semesta Jangkau Komunikasi Luas Tanpa Batas
KARYA BAKTI Danramil saat menyampaikan arahannya. Foto Riyati
Suara Semesta, Tegal
Hari Senin Tagal 24 - 8--2026 Kegiatan Karya Bakti yang melibatkan unsur TNI, Polri, Pemerintah Daerah serta masyarakat berlangsung di Masjid Baitul Hikmah, Kelurahan Kejambon, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.

Kegiatan tersebut melibatkan jajaran Kodim 0712/Tegal, unsur Kecamatan Tegal Timur , termasuk Polsek Tegal Timur beserta Masyarakat sekitar juga turut berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti sebagai bentuk kepedulian dan semangat kebersamaan dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat ibadah.
KEBERSIHAN Aparat sedang melakukan kebersihan. Foto Riyati
Karyabakti dipimpin oleh Danramil 02/Tegal Timur  Kapten Arm Tarsono dan Danramil 01/Tegal Barat Kapten Inf Bambang Kaliano. Seluruh peserta bersama-sama melaksanakan kegiatan pembersihan dan penataan lingkungan Masjid Baitul Hikmah agar menjadi lebih bersih, rapi, nyaman, dan terawat bagi masyarakat yang melaksanakan ibadah.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sekaligus HUT Kodam IV/Diponegoro  ke - 76 Tahun 2026.

Karya bakti ini menjadi salah satu bentuk sinergitas antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mempererat hubungan antara aparat dengan masyarakat.

Melalui semangat gotong royong, seluruh unsur yang terlibat berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan terawat, khususnya di fasilitas umum dan tempat ibadah.


Riyati / Kaperwil
Suara Semesta Jangkau Komunikasi Luas Tanpa Batas

Suara Semesta (Kabupaten Tegal) - 
Pada Minggu, 23 Agustus 2026, Desa Tonggara di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, menjadi meriah berkat arak-arakan peserta Lomba Karaoke yang diadakan untuk memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Peserta arak-arakan bergerak menuju lokasi acara utama di Lapangan Desa Tonggara, mendapatkan sambutan hangat dan antusias dari warga setempat yang turut hadir menyaksikan.


Acara ini juga dihadiri oleh jajaran Forkopimcam Kecamatan Kedungbanteng, perangkat Desa Tonggara, mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal (UPS) yang sedang melaksanakan KKN di sana, pemuda Karang Taruna, serta perwakilan warga dari berbagai RW dan RT.

Keterlibatan masyarakat Desa Tonggara tampak sangat besar, baik dalam mengikuti maupun menyaksikan arak-arakan. Semaraknya suasana semakin bertambah dengan kehadiran para peserta lomba karaoke yang turut mewarnai rangkaian kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81.


Semua berlangsung dengan lancar, aman, dan tertib. Antusiasme warga memancarkan semangat kebersamaan, persatuan, dan gotong royong dalam merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.


(Umi Yati)
Suara Semesta Jangkau Komunikasi Luas Tanpa Batas
HIBURAN panggung hiburan rakyat. Foto Ramadhan
Suara Semesta, Kabupaten Cirebon
Ratusan warga berkumpul antusias mengikuti berbagai perlombaan dan pertunjukan kesenian tradisional yang diselenggarakan oleh pihak kelurahan.

Acara ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan sekaligus wadah untuk mempererat tali silaturahmi serta kebersamaan antar warga di lingkungan Kelurahan Pejambon.

Lurah Pejambon, Triyono, S.IP, menyampaikan bahwa momentum hari kemerdekaan ke-81 ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali perjuangan para leluhur bangsa.

Peringatan ini tidak sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah penghormatan besar terhadap tumpah darah para pahlawan.

“Memaknai HUT RI ke-81, kita memperingati hari kemerdekaan ini dengan mengingatkan jasa pahlawan yang sudah mengorbankan harta dan nyawa, juga berdarah-darah dalam merebut kemerdekaan Indonesia ini,” ujar Triyono kepada awak media di sela-sela kegiatan, Minggu (23/8/2026).

ANTUSIAS para warga yang sangat meriah dalam acara. Foto Ramadhan
Rangkaian acara yang disajikan meliputi perlombaan rakyat yang diikuti oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga kalangan ibu-ibu.

Tidak hanya itu, panggung kesenian juga didirikan untuk menampilkan potensi budaya lokal yang dimiliki oleh warga setempat.

Triyono menambahkan, keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan positif seperti ini merupakan wujud nyata dalam mengisi kemerdekaan.

Ia berharap nilai-nilai perjuangan, gotong royong, dan rasa cinta tanah air dapat terus tertanam erat di sanubari generasi muda di Kelurahan Pejambon.

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari tersebut berjalan dengan tertib, aman, dan penuh dengan gelak tawa kebersamaan warga.


( Ramadhan)
Suara Semesta Jangkau Komunikasi Luas Tanpa Batas
TABUHAN gong sekati saat ditabuh nayaga. Foto Suhadi
Tradisi nabuh gong sekati/sekaten di Kesultanan Kanoman tahun ini dimulai dari tanggal 22-26 Agustus 2026 . 

Awit muni (awal bunyi) gong sekaten ini dikenal sebagai pelal alit yang dalam penanggalan aboge bertepatan dengan 7 Maulud sedangkan 12 mulud dikenal dengan pelal ageng. 

Kesultanan Kanoman Cirebon mengadakan tradisi pelal alit dan pelal ageng dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W berdasarkan kesepakatan minoritas ulama bahwa kelahiran Rosulullah itu pada 7 Maulid sedangkan mayoritas ulama menyepakati pada 12 Maulid, jadi Kesultanan memakai keduanya untuk memperingati Maulid.

Di malam kedua penabuhan Gong Sekati ini Pangeran Patih Mohammad Qodiron pada jam 22:30 WIB hadir dan memberikan saweran sebagai tradisi.

NAYAGA para penabuh gong sekati. Foto Suhadi 
Terlihat beberapa pengunjung dan keluarga dari 3 Kasultanan di Cirebon juga ikut memberi saweran. 

Dalam kesempatan ini Patih Kesultanan Kacerbonan yang biasa dipanggil Mama Elang Tomi dan anak keduanya pun ikut hadir.

Penabuhan Gong Sekati ini dipimpin oleh Lurah Sugiarto. Saat ditemui awak media beliau menjelaskan awal mula mengabdi di Kesultanan dari tahun 1995 dan diangkat menjadi Lurah tahun 2008 sampai sekarang. 

“Latihan penabuhan gamelan pada tahun ini dilaksanakan selama 4 hari yang biasanya selama 3 hari di dalam keraton karena beberapa nayaga/penabuh ada yang baru bergabung”, ujarnya.

Family Kanoman yang biasa dipanggil Ca Mamat menjelaskan bahwa penempatan gamelan sekaten yang ada di Cirebon dengan yg di Yogyakarta ataupun Solo itu berbeda.

Gamelan sekaten yang di Kanoman itu ada versi yang mengatakan gamelan hadiah dari Demak atau Mataram dan versi lain mengatakan gamelan ini dibawa oleh Pangeran Walangsungsang Hadiah dari gurunya Sanghyang Bango (Pajajaran) makanya dalam penabuhan gamelan ini ada lagu bango butak.

Ketebalan gamelan sekaten Cirebon lebih tipis dan lebih bercorak ke Hindu dibandingkan gamelan Sekaten dari Yogyakarta.

R. Nanang, Keluarga Kasultanan Kasepuhan yang merupakan Ketua Pokdaryut (kelompok sadar Kebuyutan) hadir 2 hari berturut-turut berturut-turut dan merasa bahwa mendengarkan alunan gamelan sekaten ini membuat kedamaian dan harapan para nayaga wayang kulit maupun sandiwara di tahun depan bisa menghadiri acara ini.

Penulis: Suhadi